Photobucket








Photobucket

   

<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


 
Sunday, January 11, 2009
a wonderful day...
Hari ini sungguh hari yang indah. Kenapa? karena saya membuang buang waktu percuma untuk hal yang tidak berguna. oke, let me tell you the story.

Seperti biasa, setiap akhir minggu saya selalu di sibukkan oleh pekerjaan saya sebagai tukang bersih-bersih di sebuah hostel untuk backpackers. Alhamdulillah hari ini tidak begitu banyak bed yang harus di bersihkan, hanya 80 beds saja, ukuran yang sangat sedikit kalau di bandingkan dengan hari minggu lainnya yang pada umumnya bisa mencapai hampir 200 beds.

Sehari sebelumnya, seorang teman mengajak saya untuk ber-ice skate di kota tetangga, Bonn. Wow! saya yang seumur-umur belum pernah merasakan untuk ber-ice skate tentu saja meng-iya-kan. Di tambah lagi suasana winter yang dingin-dingin-nya memang mendukung untuk ber-ice skate Wink. Berhubung pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak, saya selesai pada pukul 4 sore. Saya dan teman-teman lainnya berencana untuk bertemu di stasiun kereta utama Koeln pukul 5 sore. Well, that means saya harus menunggu 1 jam lamanya di stasiun kereta. Untungnya di situ banyak terdapat tempat-tempat untuk berbelanja atau sekedar window shopping.

Oke, singkat cerita, kita berencana akan menaiki kereta menuju Bonn pada pukul 17.32, semua teman-teman sudah berkumpul di peron, KECUALI seseorang yang dikenal tukang ngaret (mirip-mirip lah seperti saya Tongue). Sebutlah namanya Nay. Saya pun menelepon Nay dan berkata bahwa kereta kita akan tiba sebentar lagi. Seperti biasa, Nay selalu menjawab bahwa dia akan secepatnya sampai. Which was not. Kereta pukul 17.32 pun terlewat karena Nay belum juga menunjukkan batang hidungnya. Akhirnya kita harus mengambil kereta selanjutnya yang berangkat pada pukul 17.38. Oke, selang waktunya memang hanya 6 menit, tapi kita harus menaiki peron yang berbeda. Kita pun bergegas menuju peron yang di maksud. Sesampainya kita pada peron tersebut, Nay belum juga datang, saya hingga kesal di buatnya.

Perjalanan Koeln menuju Bonn hanya memakan waktu sekitar 30 menit, namun karena ini masih waktu winter maka pukul 5 sore pun terlihat seperti pukul 11 malam karena gelap. Kereta pun akhirnya datang, tanpa di barengi oleh kedatangan Nay. Kami pun bersiap-siap untuk mengambil kereta selanjutnya, namun alangkah terkejutnya kami  ketika  Nay menelepon salah seorang dari kami dan mengatakan sesampainya di peron, dia langsung loncat ke dalam kereta, sedangkan kami masih di luar kereta menunggu Nay. Pada saat kami mau masuk ke dalam kereta, pintu kereta tidak dapat terbuka karena memang sudah saatnya kereta berangkat. Kami pun hanya terbengong melihat kereta pergi, dengan Nay yang sudah ada di dalamnya. Dia pun menelepon dan berulang-ulang berkata maaf. Apa boleh buat, kami harus menunggu kereta berikutnya.

Saya yang baru saja pulang bekerja, merasakan cenut-cenut di kaki. biasa, penyakit lama. Kereta selanjutnya datang, dan kira-kira 30 menit kemudian, sampailah kita di Bonn. Untuk menuju tempat ice skating, dari stasiun kereta utama Bonn, kita harus naik kereta underground atau bis. Kita memutuskan untuk naik kereta underground atau u-bahn karena lebih cepat. Tanpa pikir panjang lagi, kami pun langsung menaiki kereta yang lewat, setelah naik kita kemudian sadar bahwa ini adalah kereta dengan arah yang salah. Di halte berikutnya kami pun turun dan naik ke arah sebaliknya. Which was not there. Dikarenakan adanya pembangunan sesuatu, kereta akhirnya hanya berhenti sampai stasiun kereta utama Bonn. Kami akhirnya memutuskan untuk naik bis saja. Namun, di situ terdapat banyak sekali tempat pemberhentian bis. Saya berulang-ulang kali mengutuk stadt (pihak pemkot) Bonn yang kurang terorganisir dalam mengatur tempat pemberhentian bis. Setelah kita berputar-putar teu pararuguh, akhirnya kita menemukan bis yang menuju tempat ice skating. Waktu pun menunjukkan pukul 19.30, menurut informasi dari internet, tempat ice skating tersebut SEHARUSNYA tutup pukul 21.00, jadi paling tidak kita masih punya waktu 1 jam untuk ber-ice skate. Sesampainya kita pada tempat tujuan, ada stiker kertas yang di tempel pada mesin kasir:

Untuk hari ini kami tutup pukul 20.00

Oke, kita masih ada 30 menit. Pada saat kita hendak membeli tiket masuk, mbak kasir berkata:

ooh, maap mbak, kita nggak jual tiket masuk kalau sudah tinggal 30 menit begini, soalnya persiapan pakai sepatu dan lain-lain saja sudah hampir 30 menit.

What a day! sudah ya kaki saya cenut-cenut, ketinggalan kereta sampai 3 kali, nyasar cari bis yang tepat, sampai sini kok ya nggak bisa ice skating....

iki piyeeee thoooo....

akhirnya kami pun pulang kembali ke rumah masing-masing, dan saya? kaki  masih cenut-cenut, mata mengantuk, perut masuk angin, jempol kaki dan tangan kedinginan, ingin ke toilet. Lengkap sudah derita saya hari ini.

Posted at 11:16 pm by wiwin
Comments (3)  

 
Tuesday, December 09, 2008
perbincangan dengan teman lama..

- hallo
- hi, apa kabar?
- hi there stranger, how are you?
- good, how is it going with you? its been a while that we didn't talk ya?
- yeah, true..I've been pretty busy lately..so, are you ready to leave germany?
- yup, the schedule is already fix. I will be leaving by end of this month.
- hmm..
- hei, can we meet? in this week perhaps? you are the only person that I want to meet now.
- sure, I dont have any class for this whole week, because everybody is too busy in the institute. But still I have to submit something next week.
- ok, I will let you know when should we meet, we could drink coffee or something, ok?
- ok, sounds great. See ya.
- ciao.

Di atas adalah perbincangan singkat saya dengan seorang kawan melalui telepon selular. Sejenak terlintas masa dimana pertama kali saya berkenalan dengannya. Sebutlah namanya Lan.

Bermula di bulan ke tiga kelas bahasa jerman yang saya ikuti tahun lalu. Kelas kami kedatangan putra dari seorang profesor tamu dari myanmar. Kejadian yang jarang terjadi sebenarnya, berhubung kelas bahasa kami adalah kelas yang sangat intensif dan 'tertutup', ya itu tadi, mungkin karena Lan adalah putra profesor tamu, itu sebabnya dia di ikutkan dalam kelas bahasa kami. Entah mengapa dia memilih duduk dekat dengan saya. Pada awalnya dia sering sekali bertanya kepada saya mengenai beberapa hal di dalam kelas, well pada saat itu saya yang sedang berusaha keras sekali untuk bisa mengikuti pelajaran, karena tuntutan bahwa saya harus lulus ujian bahasa yang maha terkutuk itu, tentu saja agak merasa terganggu atas pertanyaan dan celetukan yang dia lontarkan kepada saya. Dia kadang menunjukkan kesukaannya akan hal-hal yang berbau indonesia, band peter pan misalnya. Well, saya bukan penggemar band peter pan, tapi saya hargai bahwasanya ada orang asing yang menyukai hal-hal yang berbau indonesia.

Tapi berhubung kita mempunyai banyak hal kesamaan, misalnya mentertawakan sesuatu yang tidak penting dan tidak jelas, akhirnya kami pun menjadi akrab. Pada saat pertemuan besar institut dimana semua staf membawa keluarganya, Lan pun memperkenalkan saya dengan ibu dan adiknya. Lan pun sering bercerita mengenai dirinya, termasuk pada saat dia baru saja menjalin hubungan dengan seorang gadis di myanmar. Long distance relationship Smile, dan juga pada saat dia mengalami break dengan kekasihnya yang kemudian diakhir dengan mabuk di pesta seorang teman.

Hingga suatu saat saya mendengar kabar bahwa kontrak ayahnya di institut kami habis di bulan desember 2008 ini. Mereka sekeluarga harus pulang ke myanmar, termasuk Lan. Well, agak sedih sebenarnya. Satu persatu kawan saya hilang karena harus kembali ke negaranya. Lan berjanji akan membuat acara perpisahan, yang mana saya berharap tidak akan di isi dengan acara minum-minuman keras (yang mana kecil sekali kemungkinannya).

Well, Lan akan menjadi salah satu bagian dari sekelupas hidup saya di sini, beserta teman-teman lain pastinya, yang tentu saja akan saya kenang terus.


Posted at 12:10 am by wiwin
Comments (5)  

 
Wednesday, December 03, 2008
hilang rasa
setelah sekian lama
kujalin cinta
tak jarangnya dirimu
tiada kurasakan bahagia
kan ku akhiri semua disini

jangan kau cintai diriku
jangan kau inginkan aku
singkirkanlah aku
jauhi ku
tinggalkan aku disini

karena kini ku telah hilang rasa cintaku padamu
lupakanlah semua
cerita cinta yang pernah ada
................................
(Hilang Rasa, Afgan)

Dimulai pada sebuah perbincangan dengan seorang teman yang bertanya kepada saya, bagaimana caranya menghilangkan 'hilang perasaan' kepada sang kekasih setelah sekian lama berpacaran, karena kejadian seperti ini sudah terjadi berulang-ulang. Saya yang entah untuk kesekian kalinya menjadi korban penderita (halaaaah...)dalam hal percintaan, menyarankan padanya untuk segera memberikan keputusan yang jelas kepada sang kekasih, agar 'status'nya tidak terombang ambing. Karena berdasarkan pengalaman, perasaan terombang ambing seperti itu sangatlah tidak enak, walaupun sakit hati karena di tinggalkan kekasih, namun jelas status bahwa dia bukanlah lagi kekasihmu..hehehe..

Kejam memang, but hey, face the fact that he doesn't love you anymore Smile

Namun sampai kapan 'tabiat' hilang perasaan itu akan ada? apa  memang perlu menyakiti beberapa orang dulu? menurut saya sih, tabiat itu akan ada sampai dia menemukan the right person, kapan? wallahu'alam, wong saya juga sedang menunggu Tongue.

Posted at 01:33 pm by wiwin
Comments (2)  

 
Thursday, November 27, 2008
pernahkah engkau..
hai kawan,

pernahkah engkau merasa lelah, muak, bosan akan kehidupanmu kini?
pernahkah engkau ingin lari dan meninggalkan semua?
pernahkah engkau merasa bahwa tak ada yang mengerti dirimu?
pernahkah engkau merasa lelah melakukan semuanya untuk orang lain dan bukan untuk diri sendiri?
pernahkah engkau merasa terlalu memikirkan orang lain sehingga sekarang saatnya untuk menjadi orang yang egois?
pernahkah engkau merasa tak ada waktu untuk sekedar "bernafas"?

lelah rasanya diri ini kawan,

ps: kepanjangan jadinya..malah jadi langweilig..hehe, maklum masih amatir Big Smile


Posted at 11:45 am by wiwin
Comment (1)  

 
Tuesday, November 25, 2008
sprechen Sie Arabisch? (Apakah anda bisa berbahasa Arab?)
Suatu hari, Ira, seorang teman mengunjungi sebuah toko roti, kemudian seorang kasir yang terlihat seperti berasal dari negara hispanic pun mengucapkan salam kepadanya. Berikut sepenggal pembicaraan mereka yang sudah di translasi secara ngawur.

Kasir: Assalammualaikum
Ira    : Wa'alaikumsalam
Kasir: Maaf, apakah anda berasal dari ehm..Malaysia? atau Indonesia?
Ira    : Indonesia, kok anda tahu?
Kasir: Saya bisa mengenali wajah-wajah melayu
Ira    : oooo, kalau anda sendiri berasal dari mana?
Kasir: Tunisia
Ira    : Wah, saya pikir anda berasal dari amerika latin
Kasir: Ya, banyak yang bilang begitu, ehm..di Indonesia banyak sekali muslim ya?
Ira    : Iya, alhamdulillah
Kasir: Di Indonesia, bahasa apa yang di pakai?
Ira    : Indonesia
Kasir: bukan bahasa Arab? tadi anda bilang banyak muslim di Indonesia *bingung*
Ira    :errr..itu betul, tapi bahasa nasional kami bahasa Indonesia
Kasir: Tapi anda membaca Al Quran kan?
Ira    : Tentu saja, tapi kami juga membaca terjemahannya dalam bahasa Indonesia
Kasir: Bagaimana di kala sembahyang?
Ira    : Tentu saja dalam bahasa Arab
Kasir: Err..lalu bagaimana dengan khotbah sholat jumat? *masih bingung*
Ira    : Oo..kalau itu kami menggunakan bahasa Indonesia, hanya di sekolah-sekolah tertentu saja yang mengajarkan bahasa Arab, karena itu kan bahasa yang 'tinggi' jadi perlu waktu khusus untuk mempelajarinya
Kasir: Ooo..menarik *manggut-manggut*

Sebenarnya pembicaraan di atas juga pernah beberapa kali saya alami, khususnya dengan kolega (halah..) dari negara-negara timur tengah, mereka heran kenapa kita, penduduk di negara dimana terdapat kaum muslim terbesar di dunia, tidak semuanya berbahasa Arab. Well, saya sendiri selalu menggunakan alasan yang sama seperti yang Ira gunakan di pembicaraan di atas. Karena saya tidak tahu lagi alasan yang lain Big Smile, agak malu memang, kenapa kita tidak menasionalisasikan bahasa Arab ya..hmm..good question..


Posted at 07:47 pm by wiwin
Comments (9)  

 
Saturday, November 22, 2008
ready to pack and go home
Seorang sahabat saya baru saja menyelesaikan program masternya di sini. Oleh karena itu, dalam rangka merayakan hari menjadi MSc, malam ini kami mengadakan acara makan-makan bersama dengan beberapa orang teman. Menunya? nggak penting ya, kan bukan itu topik yang akan dibahas Big Smile. Berikut sepenggal pembicaran kami di tengah-tengah pembicaraan di kala makan:

suprieh nov, dulu yang jemput lo waktu pertama kali dateng kesini kan gw yah, sekarang lo udah mau pulang lagi aja ke Indo.

lita: ho'oh nih pri, perasaan yang dateng duluan dateng kita yak, masa adek kelas udah mau pulang ke Indo duluan.

novi: hehehe..iya, waktu itu gw kaget banget pas lo nanya ke gw 'dari ITB jg ya?', gw kirain lo bukan anak Indo pri.

supri: mang tampang gw tampang bule yah? *nyengir-nyengir bangga*

semua: huuuuuuu...ngareeeppp aja lo pri!

Wah, saya langsung berpikir, begitu cepat waktu berlalu, novi yang datang lebih dari 2 tahun yang lalu, akan pulang ke Indonesia 2 bulan lagi. Hm..kira-kira pada saat saya pulang nanti, apa yang akan saya lakukan yah? cari kerja? nggak pede karena walaupun lulusan master tapi sebagian nilai adalah atas belas kasihan Shocked. Mungkin saya akan buka usaha butik sendiri. loh loh..lulusan master of science kok buka butik?! wakakakakak..

Posted at 05:55 am by wiwin
Comments (2)  

 
Friday, November 07, 2008
professor bersahaja
Di semester ketiga ini saya mendapatkan modul "International Cooperation", dimana di dalamnya terdapat tiga orang professor yang berbeda dan pastinya dengan subjek yang berbeda. Adalah Professor Lanjut (bukan nama sebenarnya), yang termasuk salah satu staf pengajar di modul ini. Beliau 'kebagian' mengajar subjek Development Policies.

Hari pertama kuliah di isi dengan perkenalan dari masing-masing siswa. Saya yang hampir selalu datang terlambat ke dalam kuliah karena tinggal hanya 5 menit dari kampus Tongue, kebagian meperkenalkan diri di saat terakhir. Seperti halnya siswa lainnya, beliau bertanya apakah saya mempunyai pengalaman dengan Organisasi Internasional. Saya lupa menyebutkan bahwa saya pernah bekerja di salah satu badan UN, karena saya pikir itu bukan hal yang perlu untuk di sebutkan.

Anyway, di sesi akhir kuliah beliau menginstruksikan kepada kami untuk membuat paper mengenai salah satu organisasi internasional dan salah satu project-nya di negara mana saja. Selain itu kami juga harus mempresentasikan paper tersebut di depan kelas. Hmm. tugas yang awalnya cukup menyebalkan, saya benci presentasi di depan umum. Namun setelah di pikir-pikir kembali, ini merupakan soft skill yang insya Allah bisa berguna di masa mendatang.

DI saat break kuliah, beliau berkata kepada saya bahwa beliau pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 1972. Kesan yang cukup impresif yang saya dapatkan dari beliau ini. Dari cara berbicara dan mengajar, beliau mampu membuat kelas kami yang hanya berjumlah kurang lebih 15 orang, menjadi menarik dan jauh dari kesan membosankan.

Dari hasil search engine, saya mendapatkan bahwa beliau adalah mantan Direktur Kementrian Kabinet dan Parlemen Jerman di Bonn dan Berlin. Beliau juga pernah menjadi Direktur untuk regional development policy di Timur Tengah, sehingga beliau mampu berbahasa arab, serta Direktur divisi United Nations termasuk representatif untuk UNDP di New York.  Beliau pun mendapat gelar professor dari Universitas Humbolt, Berlin, kota kelahirannya. Dan sederet posisi-posisi penting lainnya. Namun dari sisi penampilan, beliau jauh sekali dari kesan mewah. Dengan ransel hitamnya dan alat transportasi berupa kereta antar kota (beliau tinggal di Bonn), beliau terlihat sangat bersahaja sekali.

Suatu hari setelah selesai kuliah, beliau berkata kepada saya "Selamat Jalan", wow..mengingat bahwa terakhir beliau mengunjungi Indonesia adalah tahun 1972, saya kagum beliau masih ingat salah satu kata dalam bahasa Indonesia.

Oh ya, setelah saya presentasi di depan kelas, beliau sempat bertanya kepada saya apakah saya pernah mengunjungi Amerika, tentu saja saya jawab belum pernah (dan juga tidak berencana untuk mengunjungi), kemudian beliau berkata, "you have an american accent, perhaps it is the effect from the television?" hahahaha..kok beliau tahu yah?!

Posted at 03:44 pm by wiwin
Comments (3)  

 
Wednesday, October 29, 2008
susahnya jadi orang baik


Undangan di atas saya terima kira-kira 10 hari yang lalu. Jackie, teman kami, yang walaupun jarang datang untuk kuliah karena sepertinya pekerjaannya jauh menjadi prioritas, namun kami teman-teman sekelasnya tetap menganggapnya menjadi bagian dari kami. Apalagi Jackie adalah teman pertama kami yang mengadakan pesta pernikahan di angkatan kita.

Sayang sekali karena saya harus "mencari sesuap nasi" (halah..) setiap akhir minggu dan bisa di pastikan saya akan jatuh pingsan jika saya tetap memaksakan diri ikut datang ke pesta pernikahan Jackie diluar kota, akhirnya saya hanya bisa mengucapkan ucapan selamat via email tanpa bisa datang langsung.

Kemarin di saat break kuliah, beberapa orang teman sedang mendiskusikan bingkisan apa yang akan kita berikan kepada Jackie, ada yang mengusulkan untuk "menghadiahkan" salah satu kawan kita yang di daulat sebagai tukang kebun untuk pesta pernikahan, namun ide ini di tolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan Big Smile. Akhirnya di sepakati bersama bahwa kami akan memberikan hadiah berupa...voucher IKEA! ide yang cukup cemerlang, karena dengan voucher itu, Jackie dan tunangannya akan leluasa membeli barang apa saja yang ada di IKEA. Kemudian timbul beberapa pertanyaan yang dengan secara gemilangnya langsung di jawab secara sepihak,

'siapa yang kebagian ngumpulin uang?---> Wiwin'
'siapa yang beli voucher IKEA?---> Wiwin'
'siapa yang beli kartu ucapan?'---> Wiwin'

WAIT WAIIIITTTTT!!! kenapa saya semua sih yang ngerjain?
Iya win, kan kamu expert kalo soal IKEA, kita sih percaya aja sama kamu.
Oyeah...terus kenapa juga saya yang harus ngumpulin uang?
Biar gampang beli kadonya win.
Terus kartu, saya juga yang urusin?
Kan kamu yang pegang uangnya, jadi bisa sekalian beli kartunya.

!"%&$§ß@§$%&......aaaarrrrgggghhhhhhh

susahnya jadi orang baik...

beberapa saat kemudian, ada yang menyeletuk:

eh, ngomong-ngomong, voucher apaan sih?

kita langsung pergi.

Posted at 07:19 am by wiwin
Comments (2)  

 
Thursday, October 23, 2008
bete..
Semenjak tinggal disini, saya jadi hobi mencari resep makanan di internet dan mempraktekkannya sendiri. Yang mana kegiatan ini sangatlah jauh dari kehidupan saya sehari-hari sewaktu masih di Indo Tongue. My mom had already cooked everything, and of course she wont let me cooking, in order to save her kitchen Big Smile.

Hari ini saya mendapatkan resep Thunfisch Auflauf (Makaroni Tuna) dari bunda yang satu ini, makasih mbak, resepnya oke oke Wink.



Dan demi memberdayagunakan brokoli yang sudah agak kekuning-kuningan (ok, I admit that's not really true), maka saya mencari resep cah brokoli. Resep bisa di dapatkan disini.


Ok, everything seemed fine, I put every ingredients based on the recipe, but...after I tasted, it was too salty! both of the food were too salty! aaarrrrggghhhh...

bete...bete....bete....

Posted at 07:42 pm by wiwin
Comments (4)  

 
Tuesday, October 21, 2008
yang penting gaya...

(image from hundm autumn 2008 catalog)

Dari dulu saya paling tidak suka berdandan, baik make up atau pakaian. Sampai pernah suatu hari ibu saya memohon-mohon agar saya pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli kosmetik. karena beliau prihatin melihat anak gadisnya hampir tidak pernah berdandan. hahaha. Bahkan ketika saya di wisuda di kampus darmaga bogor pun, saya hanya bermake up seadanya. Males judulnya.

Akhir minggu lalu, ketika saya sedang bekerja paruh waktu, seorang teman langsung memakai parfum dan mengganti "seragam kerja" dengan baju gaulnya setelah kami selesai bekerja.
"gw mau ketemu cem-cem-an gw jek, makanya kudu tampil oke", katanya.
saya hanya bisa tersenyum dan manggut-manggut. Mengingat saya hanya bekerja sebagai cleaning service, jadi saya tidak melihat adanya alasan mengapa saya harus berpakaian rapih. hehehe.

Kalau mau sedikit usil Tongue, kadang saya berpikir, kalau kondisi keuangan kita memang memungkinkan, mungkin sah-sah saja kita menghabiskan banyak uang untuk membeli pakaian, make up atau aksesoris. Apalagi setelah saya perhatikan, anak-anak muda di koeln memang lebih "bergaya" daripada kota-kota lain di jerman.

Saya kenal beberapa orang teman yang saya tahu persis bagaimana merana-nya kondisi keuangan mereka. Sendirian di jerman, tanpa keluarga, kalaupun ada pastinya gengsi untuk sekedar meminta atau meminjam uang "kost-an". Mereka harus bekerja banting tulang untuk sekedar membayar uang "kost-an" yang tidak murah di koeln, membayar asuransi, pajak, uang sekolah dan semester ticket. Oke, menurut saya hal-hal itu adalah kebutuhan primer yang harus di penuhi. Tapi kadang, saya tidak habis pikir, mereka tetap saja punya uang untuk hal-hal tidak penting lainnya, misalnya: rokok. Harga rokok di jerman memang ngajak miskin dibanding dengan harga di indo. Saya pernah lihat di supermarket, harga rokok yang paling murah adalah 3,5 euro (sekitar 45 ribu rupiah). Belum lagi ada beberapa teman yang masih suka membeli ganja (dont ask me how do they buy it), membeli jaket-jaket winter, sepatu boot dan pakaian-pakaian yang bermerk. Hanya untuk kepentingan bergaya. Bahkan mereka tidak rela untuk berhutang sana sini untuk menutupi kebutuhan tersier mereka itu. Beberapa dari mereka pun tetap harus mengirimkan uang ke keluarga mereka di indo. Dan kalau kita melihat dari cara mereka berpakaian, kita tidak akan mengira sama sekali kalau mereka sedang kesulitan keuangan.

Well, bukan untuk bermaksud untuk usil, tapi memang ada naluriah manusia yang selalu ingin tampil menarik di depan orang lain, tidak perduli betapa besar pengorbanan yang di keluarkan Smile.

Posted at 03:01 pm by wiwin
Comments (2)  

Previous Page Next Page