Kurang dari dua pekan lagi saya akan terbang pulang ke rumah. Yup, akhirnya setelah hampir 2 tahun menuntut ilmu, well kali ini bukan untuk pulang selamanya, karena saya hanya melakukan pengumpulan data di tanah air, tentu saja saya harus kembali lagi kesini untuk meneruskan thesis saya.
Karena saya akan meninggalkan kamar selama dua bulan, saya harus mencari seseorang untuk tinggal di kamar saya. Zwischenmieter istilahnya. Biasanya ada saja yang mencari kamar untuk beberapa bulan karena yang bersangkutan akan melakukan praktikum di firma atau keperluan lainnya.
Oke, singkat cerita mulailah saya membuat iklan untuk kamar saya, baik dalam bentuk kertas yang saya tempel di kampus, kafetaria atau di gedung saya, juga dalam bentuk iklan di internet. Awalnya respon yang masuk cukup positif, berhubung tetangga sebelah adalah seorang wanita, saya pun lebih memilih untuk mencari wanita saja. Pada awalnya ada seorang wanita yang tertarik dengan kamar saya, tapi setelah tiga kali membatalkan janji datang ke koeln untuk melihat kamar karena alasan kesehatan akhirnya dia pun memutuskan untuk tidak mengambil kamar saya. Beberapa minggu kemudian ada seorang gadis yang menelepon saya dan meminta untuk bertemu dengan SEMUA TETANGGA, lah ini apa pula maksudnya, tentu saja sulit untuk mengumpulkan tetangga, secara kehidupan disini lebih individualis. Well, pada suatu hari si gadis ini pun sempat bertemu dengan salah satu tetangga dan akhirnya memutuskan untuk tidak jadi mengambil kamar saya dengan alasan ambient-nya kurang cocok, whatever that means.
Atas informasi dari seorang teman, saya mendapat kabar bahwa akan ada seorang wanita dari Indonesia yang mengikuti program pertukaran pelajar dari salah satu universitas negeri di Jogjakarta dengan kampus di mana saya bernaung di sini. Sebutlah namanya Na. Maka dari itu Na hendak mencari kamar selama 6 bulan. Akhirnya saya pun mengirimkan email kepada Na, kebetulan Na langsung mengiyakan untuk mengambil kamar saya. Dia pun akan datang ke sini tanggal 2 maret, sangat kebetulan sekali karena saya akan berangkat tanggal 3 maret. Kebetulan Na akan datang di temani oleh sang ibu ke jerman.
Oke, sampai sini sepertinya tidak ada masalah.
Saya pun pergi ke Studenternwerk untuk membuat kontrak resmi antara saya dengan Na. Semua dokumen sudah siap, tinggal tanda tangan saya di depan Studentenwerk. Ketika saya menginjakkan kaki di halte kereta dekat gedung Studentenwerk, saya menerima sms dari ibunda Na, berikut petikan smsnya,
"Mbak Wiwin, kenalkan saya mamanya Na, di tempat mbak Wiwin apa bisa tinggal berdua? saya akan bayar kalau memang harus bayar lebih. Maklum saya sudah tua dan tidak mau ada masalah di negeri orang."
Oke, di gedung di mana saya tinggal (dan di semua Studentenwohnheim di Jerman) memang tidak di perbolehkan untuk tinggal berdua. Itu peraturan resminya. Tapi prakteknya banyak juga student yang "hidup bersama" dan tinggal disini dan tidak ada ceritanya "tertangkap" oleh pihak pengelola gedung. Setidaknya selama hampir 2 tahun disini saya belum pernah mendengar cerita itu.
Saya pun mengirimkan sms balasan kepada ibunda Na,
"Halo Tante, tenang aja disini nggak pernah di cek kita tinggal sendiri ato nggak, tetangga sebelah juga suka bawa temannya, jadi tante nggak usah khawatir."
Kemudian beliau pun membalas sms saya,
"Makasih mbak Wiwin, saya cari kamar lain yang bisa untuk berdua saja, semoga mbak Wiwin bisa cari orang lain yang mau mengisi kamar mbak."
WHATTTTT????
iki piyeeee tho...untung saya belum sempat tanda tangan di Studentenwerk, kalau sudah kan jadinya repot. Disini sangatlah berbeda kondisinya dengan di Indonesia, yang mana semua urusan harus di selesaikan dari jauh-jauh hari. Kalau memang keberatan dengan kamar saya, kenapa tidak dari jauh-jauh hari kasih tahu saya, jadinya saya bisa cari orang lain untuk tinggal di kamar saya. Bukan pada saat saya mau tanda tangan kontrak!
@€§$%&/°!"§...aaarrrrrgggghhhh.......
Beberapa jam kemudian, saya pun menerima email dari Na yang intinya meminta maaf atas kejadian ini, dia mengaku sempat bertengkar dengan sang ibunda karena Na merasa malu dengan saya.
Saya pun memulai lagi usaha pemasangan iklan dan melakukan penawaran untuk kamar saya.
Nasib..nasib...